childlit_01

Tidak ada pernah kata tua untuk membaca buku, termasuk buku anak. Sebuah program menarik dari blog Bacaan B.Zee ingin aku coba ikuti. Semoga dengan mengikuti program ini, aku lebih konsisten menulis resensi atau ulasan dari buku yang sudah kubaca.

Sastra anak adalah karya yang ditulis untuk anak. Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya yang diterbitkan UGM Press mengatakan ciri-ciri sastra anak adalah berisi hal-hal yang dekat dengan kehidupan anak dan sesuai dengan perkembangan kognisi, afeksi, sosial dan emosional anak.

Berdasarkan definisi tersebut, aku mencoba membuat perincian buku-buku anak atau yang termasuk pada sastra anak untuk kubaca sampai penghujung tahun ini.
1. The Tale of Petter Rabit karya Beatrix Potter

2. Sekolah Tebing karya Clara Ng

3. Matilda karya Roald Dahl

4. Anderson’s Fairy Tales karya Hans Christian Anderson

5. Fantastic Beast and Where to Find Them karya JK Rowling

Lima buku di atas menjadi target awal mengikuti tantangan membaca ini. Setiap habis satu buku yang selesai kubaca, langsung akan kutulis resensinya. Mari selami dunia anak yang penuh kejutan melalui buku-buku anak!

[Anak Kreasi] E-Book Puisi Ketiga

Kerinduan yang mendalam coba aku tumpahkan dalam puisi anak ini. Tiap anak pasti selalu punya gambaran sendiri tentang Nenek. Rumah hangat kedua setelah Ibu.

Semoga kerinduan ini dapat pula menjadi bait-bait doa. Paket doa yang akan menerangi dan melapangkan Nenek di sana.

Terima kasih untuk Mba Aryani yang telah membuat ilustrasi begitu cantik untuk puisiku tentang Nenek.

12210915_10153692178214481_1269953148_o-207x300

Apa kenangan terindahmu bersama Nenek? Simak bait-bait rinduku pada Nenek dengan mengunduhnya di http://serusetiapsaat.com/ebook/perut-nenek/  🙂

Apa Itu Intelektual?

Foto: Tristia Riskawati

Foto: Tristia Riskawati

Apakah perbedaan pakar dan intelek? Lalu, seperti apa sebenarnya intelektual?

Sepanjang Ramadhan, saya mengikuti kegiatan CIWS (Course on Intellectual Writing Skills). Sabtu, tanggal 27 Juni 2015, materi pertama disampaikan oleh Prof. Yasraf Amir Piliang. Materi yang disampaikan mengenai intelektual publik.

Pada jam-jam awal materi saja, saya merasa langsung diajak berpikir untuk membedakan antara orang cerdas, pakar, dan intelektual. Apakah orang yang cerdas dapat dikatakan seorang intelektual? Apakah seorang pakar langsung mendapat gelar intelektual?

Materi disampaikan kurang lebih 60 menit. Saya setuju dengan definisi dari Michel Foucault, bahwa seorang intelektual memiliki tugas to disturb people’s mental habits. Prof. Yasraf Amir Piliang pun mengafirmasi pernyataan Foucault tersebut, bahwa tugas intelektual adalah menyadarkan. Karena masyarakat harus disadarkan, harus ada intelektual yang berbicara tentang hal yang luas.

Tugas intelektual bukan untuk menyuapi masyarakat, tetapi menyadarkan masyarakat.

Continue reading

Wishful Wednesday [5]

Ini tentang kesayangan!

Setiap orang pasti punya kesayangan. Entah itu warna, boneka, baju, atau orang kesayangan :D. Tak lupa, saya pun memiliki kesayangan itu. Ini dia buku-buku kesayangan itu.

Sapardi's works

Sapardi’s works

Semua buku karya Sapardi Djoko Damono selalu berusaha saya miliki. Ya, walaupun ada beberapa karyanya yang tidak dapat saya miliki, seperti “Kematian Sang Pengarang”. Tiap bukunya memiliki kenangan tersendiri. Bagaimana tidak? Puisi “Dalam Doaku” dalam buku “Hujan Bulan Juni” lah yang mengantarku menyukai sastra sejak SMA sampai sekarang. Bahkan, menuntunku memilih Studi Indonesia sebagai jejak akademisku. 🙂

Di WW kali ini, saya ingin memaparkan buku impian saya. Seminggu ini terus menanti akhir pekan untuk membeli novel Hujan Bulan Juni. Buku tersebut karya Sapardi Djoko Damono terbaru. Jika dulu, Hujan Bulan Juni adalah buku sepilihan sajak, kali ini Hujan Bulan Juni adalah novelnya.

Continue reading

Menjadi Kita Tak Harus Kehilangan Aku

Suamiku berkata, intelek baginya tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Begitulah barangkali maksudnya mengenai istrinya. Yang dihargainya adalah kemanusiaan. Aku lega mendengarkannya.

Camkanlah, suamiku menghargai aku karena aku mencintainya, karena aku tidak memberikan pendapat-pendapat yang berbelit, karena aku menunggunya, mendorongnya, dan memujanya. Semua itu adalah benar. Aku memberikan segala sesuatu kepadanya. Segala sesuatu yang menurutnya tidak bisa diberikan oleh buku dan orang lain. Aku memberikan cinta, kehangatan, hormat, ketulusan. Aku tenggelamkan diriku pribadi, aku hilangkan kepentinganku sendiri. Aku mengabdinya. Benar, aku memberikan segala yang diperlukan kepadanya, yang dikatakannya sendiri tidak dapat diperolehnya semenjak ia meninggalkan rumah ibunya.
-Ibu Inggit pada buku Soekarno Kuantar Kau Gerbang yang ditulis oleh Ramadhan K.H.-

Hey calon suamiku kelak!
Continue reading

[Anak Kreasi] E-Book Puisi Kedua

Bulan Mei ini, selain matahari sedang senang-senangnya bersinar terik, bunga-bunga pun sedang berlomba untuk menampilkan kelopak dan warnanya masing-masing. Bulan Mei itu hangat 🙂

Di penghujung bulan Mei ini, dengan mencoba merasakan gugupnya bunga-bunga yang demam panggung untuk memamerkan kelopak dan warna mereka, puisi anakku kali ini bertema ‘demam panggung’. Sebenarnya, puisi ini terilhami dari pengalaman masa kanak-kanak dulu. Saya yang introvert sering kali panas dingin jika harus tampil di depan panggung. Namun, karena bantuan orang tua, guru, dan teman-teman, saya akhirnya berani untuk tampil di depan umum.

Kali ini, puisi saya menjelma dalam dunia visual melalui goresan imut dan menggemaskan Mba Eugenia Gina. Mba Gina, berlinang air mata saya melihat dunia yang mba Gina visualisasikan dari puisi yang saya tulis.

Selamat menikmati. Semoga karya sederhana ini dapat dinikmati adik-adik kecil. Semoga juga karya ini dapat mengingatkan kesederhanaan masa kecil kita yang tak dapat terganti oleh apa pun.

 

Image

Terima kasih untuk Mba Gita Lovusa atas kesempatan indah dan berarti ini. Sila dicek di http://serusetiapsaat.com/e-book-misteri-panggung/

 

-A-