Sirah Rasulullah dalam Puisi

Shalawat dan Salam untukmu ya Rasulullah. Biografi dan buku sirah yang tebal-tebal sudah banyak kita temukan dan baca untuk mengenal, memahami, dan mencintai Insan paling mulia ini. Dari buku ini, kita tak akan menemukan detail seperti kita temukan di buku sirah nabawiyah lainnya. Tak juga akan disuguhi narasi ritmis seperti pada buku Muhammad yang ditulis Tasaro GK.

Memilih buku ini karena saya tertarik jalan hidup terbaik dari Insan paling mulia di muka bumi ini dituangkan dalam sajak. Meski dalam sajak, kronologis, nama tempat, nama tokoh yang sejatinya memang ada, serta inti peristiwa tertuang dengan jelas. Misalnya pada penggambaran Kaum Anshar: “The prophet said: “if the Ansar walk along a valley and all the people walk another way. I would walk with the Ansar. All people are like outer clothes and Ansar are like inner garments.”

Continue reading

Sepercik Kebaikan, Sekian Kebahagiaan dalam “The Art of Kindness”

Pada masa Perang Dunia I, Natal tahun 1914, para tentara berhenti untuk mengangkat senjata pada hari itu untuk berbagi hadiah Natal, sajian Natal, dan bermain bola bersama. Kejadian Christmas Truce itu sedikit gambaran bahwa manusia hakikatnya senantiasa menghendaki kebaikan meski hanya sepercik saja di tengah keadaan gelap tanpa harapan.

Kebaikan memudahkan langkah kita, juga menghangatkan sekitar dan sesama. Dengan berbuat baik, kita menyadari, menerima, dan mengakui bahwa dalam hidup ini kita bersama-sama: moving, learning, loving, growing, and feeling together. Berbuat baik membuat hati lapang, menyatukan satu dan lainnya secara positif, dan menghormati diri sendiri serta orang lain.

Continue reading

Seikatsu Kaizen: Rupa dan Proses Perubahan Jepang Menuju Masyarakat Unggul dan Modern

90585463_10221601937138384_7834852463457861632_o

Apa yang dikagumi dari Jepang? Disiplin? Rapi? Bersih? Dan aneka keunggulan lain yang senantiasa melekat dengan Jepang. Semua itu bukan hasil semalam. Namun, hasil dari sebuah proses panjang dan tekun.

Susy Ong melalui buku ini memperlihatkan Jepang di masa lalu. Ada masanya warga Jepang itu tukang telat, boros, malas, bahkan negara Barat saat itu punya sebutan “waktu Jepang” untuk makna ngaret atau terlambat.

Cultural determinism dipilih oleh para pemimpin Jepang untuk mengubah segala keburukan yang dimiliki. Mereka percaya budaya lah sebagai faktor penentu. Hal yang diubah pertama kali untuk mendukung itu adalah paradigma dan gaya hidup.

Continue reading

Apakah yang Dinanti Srimenanti?

71389946_10219824058052518_4601683971602907136_o

Puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Pada Suatu Pagi Hari” muncul sejak awal pengisahan dan menjadi pengatur ritme kisah. Kisah dirajut oleh sudut pandang tokoh pria dan tokoh wanita secara bergantian. Sri adalah seorang pelukis. Ketika kisah sedang berfokus pada Sri, maka nama-nama pelukis terkenal muncul dalam cerita dan berperan atau berdialog dengan tokoh Sri. Saya (tokoh pria) adalah seorang penulis. Ketika kisah berpusat pada tokoh pria, bermunculan nama-nama terkenal dalam dunia sastra, seperti Aan Mansyur, Sapardi Djoko Darmono, Faisal Oddang, dan lain-lain. Para tokoh itu terlibat diskusi dan berdialog dengan tokoh pria pada novel ini.

Continue reading