Kenalan Baru, Teman Baru, Senyuman Baru

Erlin, Nisa, dan Agis

Erlin, Sona, dan Agis

Take pictures in your mind on your childhood room

memorize what it sounded like when your dad gets home

remember the footsteps, remember the words said

and all your little brother’s favourite songs

I just realized everything I have someday gonna be gone

(Never Grow Up-Taylor Swift)

Perkenalkan tiga teman baruku. 3 teman cilik yang akan aku temui rutin seperti menemui pacar di hari Minggu (pacar? padahal ga punya sama sekali :p). 3 teman cilik yang belum ku temukan julukannya agar lebih akrab lagi. Tenang saja, beberapa kali lagi bertemu, julukan imut untuk mereka pasti tercipta.

Minggu, 5 Mei 2013

Halaman rumah sederhana sudah ramai oleh tawa riang anak-anak. Makhluk-makhluk polos yang kita semua pernah melewati masanya. Saat dunia kita begitu penuh maaf dan tawa. Kakiku belum sampai melewati pagar biru rumah sederhana milik seorang ibu tua yang dermawan, rasanya jiwaku sudah berkelana bermain dengan  mereka.

“Assalammualaikum…halloooo…” sapaku pada mereka yang cukup terkejut juga dengan kedatanganku. Kuulurkan tangan yang membuat mereka semakin terkejut. Mereka mengulurkan tangan untuk mencium tanganku, kuulurkan tangan untuk ber-high-five dengan mereka. Tapi, akhirnya mereka balas juga dengan cengiran polos yang buat hati langsung luber.

“Buat yang kelas 4 sekarang sama kakak yang baru ini, ya. Namanya kak…” temanku memperkenalkanku yang bahagianya disambut sorak sorai makhluk-makhluk imut itu.

Ini bukan pengalaman baru bagiku. Biasanya setiap Sabtu pun aku bertemu dengan anak-anak manis lain di Depok. Namun, ketika ada permintaan kawanku untuk mengisi juga di Bogor, tanpa pikir panjang aku sanggupi. Ada perasaan ‘puas’ dan ‘bahagia’ tiap kali berbagi dengan tawa ceria dari anak-anak yang jika dilihat dengan mata telanjang tampak tak beruntung secara harta, padahal betapa kaya hati dan pengalaman mereka.

Kelas 4 ada tiga orang: Agis, Erlin, dan Sona. Belum sempat kubuka kelas, mereka sudah mengajukan materi PPKN tentang tugas DPR MPR, lembaga negara, tari-tarian, dan materi-materi lain khas PPKN. Belum juga aku memulai beraksi sebagai ‘guru’, anak bernama Agis memukauku dengan segala pengetahuannya tentang lembaga-lembaga negara tersebut lengkap dengan tugas dan fungsi, hak dan kewajiban, bahkan bisa aku jamin para anggota DPR yang ‘tukang tidur’ itu tak sehafal Agis.

1 jam mereka sudah mulai bosan. Aha, inilah waktunya beraksi. Aku sendiri tak suka kelas yang monoton. Kubagikan tiga kertas origami yang mereka pilih warnanya sesuai selera masing-masing. Kuminta mereka menggambar manusia lengkap dengan nama yang mereka pilih untuk gambarnya. Dengan semangat Agis mulai menggambar. Gadis cantik ini selain kuat hafalannya, kerja otak kanannya pun baik sekali. Gambarnya begitu rapi dan detail untuk gadis cilik seusia dia. Erlin malu-malu menggambar, melarangku untuk mengintip. Sona yang ceriwis selalu ramai, baik saat memilih kertas ataupun saat menggambar.

“Kak sudaaaaaaah…” ujar mereka. Kuminta mereka satu persatu memperkenalkan orang yang digambar oleh mereka: siapa namanya, di mana tinggalnya, apa yang sedang dilakukan, apa yang sedang dirasakan, dan lain-lain. Awalnya mereka malu-malu, tapi ketika Sona memulai cerita dengan percaya diri, dua orang temannya pun tak ingin kalah.

Sona menggambar anak perempuan yang katanya namanya ‘Cinta Laura’ yang ingin jadi penyanyi. “Sona ingin jadi penyanyi?” selaku yang dijawabnya hanya dengan senyuman menggemaskan. Tokoh yang digambarnya begitu ekspresif seperti Sona.

Lain lagi dengan Agis yang menggambar seorang putri cantik yang sedang di kebun bunga yang diberi nama “Putri Nova”. Gambarnya indah dan detail, ‘gambarnya secantik yang punyanya’ pujiku, Agis pun tersenyum. Gambar Agis manis dan penuh bunga, khas impian gadis kecil.

Masuklah pada Erlin yang pemalu. Butuh beberapa menit untuk memberinya kepercayaan diri agar maju ke depan untuk memperkenalkan tokoh yang digambarnya. Gambarnya tak seindah Agis, tak seekspresif Nisa, tapi begitu jujur. Gambar orang khas anak-anak. Ada yang menyentil saat kulihat gambarnya yang kutanyakan sekalian untuk memancingnya bercerita, ‘Erlin, kenapa Ivy bawa bunga?” tanyaku menanyakan tokoh Ivy yang diciptakannya. “Dia mau memberikan pada ibunya, kan ceritanya hari Ibu, kak…” jawabnya malu-malu. Tanpa pikir panjang, kuusap kepalanya dan kupeluk gadis kecil pemalu itu. Betapa lembut hati gadis kecil ini…

Akhirnya, penilaian kuserahkan pada anak-anak dari kelas lain yang mendengarkan cerita ketiga muridku. Penilaian terbaik diberikan pada Erlin. Ternyata, bagaimana pun keadaan anak-anak, sosok Ibu tetap yang paling lekat.

“Kak…minggu depan di kelas 1 juga ngajar kayak gini”, ujar anak kelas 1 membujuk. Begitu pula anak kelas 2, 3, dan 5. Aku begitu bahagia disambut mereka seperti itu. “Iya…setelah belajar dengan kakak mandunya masing-masing ya, sayang…”

Image

ceritanya mamerin gambar

Cara yang kupakai ini berguna untuk mengenal anak-anak lebih dekat. Ekspresi gambar mereka dan cara mereka bercerita tentang tokoh yang mereka gambar dapat membantuku mengenal karakter mereka. Dengan ini, aku bisa tahu bagaimana aku harus bersikap pada masing-masing anak. Misalnya, saat aku harus menegur kesalahan yang dilakukan, dengan mengenal karakter mereka aku bisa mencari cara yang tepat agar teguranku tidak diartikan sebagai ‘amarah’ tapi sebagai ungkapan ‘kasih sayang’ untuk mengingatkan.

Karena keceriaan dan kepolosan anak-anaklah yang selalu meyakinkanku bahwa dunia indah dan akan selalu indah. Seperti yang kujawab pada seorang teman yang bertanya hari ini, “apa yang paling kamu sukai di dunia ini, Neng?”.

“Ada dua hal di dunia ini yang paling aku sukai: anak-anak dan binatang” jawabku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s