Katarsis (Sekilas tentang Gelar Jepang 19 FIB UI)

Ada banyak catatan yang saya tulis (di buku kecil berwarna kuning yang selalu saya bawa ke mana-mana) mengenai acara Gelar Jepang ke-19 FIB UI. Ini bukan pertama kalinya saya datang ke acara Gelar Jepang seperti ini. Sebelumnya acara lebih besar dari ini pun pernah, yaitu Japan Matsuri di Monas tahun 2010. Saya ingat, saat itu menikmati setiap hal yang ada di Japan Matsuri sambil basah kuyup karena hujan deras sekali. Lalu, apakah catatan yang saya tulis tersebut? Mari kita mulai dari hal-hal yang akhirnya menjadi wawasan dan bahan perenungan :).

image

Replika Mikoshi yang merupakan tandu yang berisi para arwah

Gelar Jepang ke-19 ini diadakan di Pusat Studi Jepang (PSJ) di kawasan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Suasana Jepang mulai diciptakan sejak awal dengan Torii menyambut di gerbang masuk menuju PSJ. Torii adalah gerbang di kuil Shinto untuk membatasi kawasan tempat tinggal manusia dan Kami (dewa). Dari bentuk sudah dibuat sedemikian miripnya. Pilihan warna pun cocok sekali, yaitu merah menyala. Akan tetapi, ada kejanggalan yang membuat replika Torii ini tidak bernyawa saat saya melihatnya pertama kali di hari Sabtu, 6 Juli 2013. Salah satu yang membunuh jiwa dari replika Torii ini adalah tulisan balok Gelar Jepang yang disimpan di dekatnya dengan warna biru yang menyala. Padahal, tulisan tersebut dapat diletakkan di dekat penerima tamu di dalam gedung PSJ. Akan lebih baik, di luar dibuat nuansa kuil Shinto lebih detail lagi dengan atribut yang tidak akan melemahkan nyawa Torii itu sendiri.

image

Replika Torii

Gelar Jepang ini juga mengikutsertakan adik-adik SMA untuk membuat miniatur kota-kota di Jepang. Ada miniatur Kyoto, Tokyo, dan Okinawa yang dibuat dengan “niat” dan seperti diisi oleh harapan bahwa miniatur yang dibuat mereka, kelak akan berjodoh dengan kenyataan mereka ada di kota yang mereka buat itu. Hemm…jadi terpikir bagaimana caranya ya supaya adik-adik remaja punya antusias yang sama untuk Indonesia? (Bandung juga kalau dibuat miniatur kayaknya ga kalah cantik deh…asal sampahnya jangan ikut 😉 )

image

Daya tarik Jepang memang tidak bisa dipungkiri. Selain karena serbuan anime dan manga yang unik-unik, serta dorama dengan cerita yang out of the box disertai pemain yang ganteng (inget Ryo Nikishido deh…), Jepang memiliki pesona budaya yang luar biasa. Nah, inilah yang saya beri bold untuk Gelar Jepang kali ini. Budaya! (Itulah yang menjadi alasan juga saya tidak mengambil gambar para peserta cosplay yang kreatif).

Ada hal menarik yang saya temukan dari beberapa budaya Jepang yang coba ditampilkan di Gelar Jepang ke-19 ini, mulai dari Tanabata, Bon Odori, tarian Para-Para, sampai Hanabi. Hal menarik itu adalah “katarsis” yang tersembunyi dari ritual-ritual budaya tersebut.

Festival Tanabata (festival bintang) di Jepang dilakukan pada tanggal 7 Juli. Festival ini ditandai dengan harapan-harapan yang digantung di pohon bambu. Tradisi ini berdasarkan kepercayaan masyarakat Jepang bahwa harapan yang digantung di pohon bambu akan terkabul.

image

Harapan yang digantung pada pohon bambu di sekitar gedung Pusat Studi Jepang

Bon Odori adalah kegiatan menari pada malam hari. Masyarakat berkumpul membentuk lingkaran lalu menari bersama diiringi tambur Jepang. Saat di Gelar Jepang kemarin, musik pengiringnya beragam, mulai dari musik tradisional sampai soundtrack anime. Pada ritual Bon Odori, masyarakat Jepang percaya bahwa arwah pun ikut menari. Tapi sayang, saya tidak bisa mengabadikan Bon Odori versi Gelar Jepang UI karena saking riuhnya oleh para pengunjung yang ikut menari.

image

Tarian para-para ini pun dilakukan bersamaan dengan mengundang seluruh pengunjung untuk ikut serta menari

Setelah Bon Odori usai, semua menunggu Hanabi yang akan menghias langit malam. Di Jepang, Hanabi ini akan membentuk beraneka rupa bentuk, ada Sinchan, Doraemon, bintang, ataupun hati. Namun, meski pun sangat biasa, hanabi kemarin tetap memberi kesan tersendiri di hati para pengunjung.

Dari ritual-ritual tradisional itu, ada satu benang merah yang sama, yaitu dilakukan bersamaan sebagai upaya katarsis diri. Katarsis menurut KBBI adalah penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan. Menari dan menyanyi bersama, menggantung harapan bersama, sampai melihat hantaran kembang api bersama untuk melepaskan ketegangan yang ada. Sudah tak asing bukan dengan informasi tingkat stres di Jepang yang tinggi? Mungkin ritual-ritual budaya inilah yang sedikit dapat melegakan urat syarat mereka yang tegang.

image

Sensei dan murid-muridnya

image

Selalu ada tawa bersama mereka: Maf, Dek, dan Shiro 🙂

image

Shiro san yang cinta Indonesia

“Pantas ya, orang Jepang jarang bertikai satu sama lain. Meski mereka tertekan, mereka punya peluapan dalam bentuk ritual-ritual seperti ini…” ujar salah seorang teman sambil memandangi langit yang berkilau dengan hanabi.

Dalam hati  saya renungi ungkapan teman saya tersebut. Ya, Gelar Jepang ini pun memberikan tempat untuk saya dan kawan-kawan untuk sejenak lepas dari rutinitas, melihat hal yang lain dan berbeda dari hari biasanya, untuk sekadar berkumpul dan tertawa bersama.

-A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s