Scene on Three (1)

Image

August adalah matahari. Aku, Mom, dan Dad adalah planet-planet yang berputar mengelilingi matahari.

Metafora yang polos namun cerdas ini keluar dari mulut seorang gadis kecil yang berperan sebagai kakak seorang adik laki-laki yang terkena mandibulofacial dysostosis pada buku “Wonder”. Saya mulai jatuh cinta dengan buku ini ketika bagian Via yang menceritakan August dari sudut pandangnya sebagai seorang kakak. Pandangannya begitu polos namun dewasa dan cerdas di usianya yang baru 15 tahun. Lihat saja bagaimana Via menggambarkan kehidupannya, Mom, dan Dad setelah August lahir.

August adalah matahari. Aku, Mom, dan Dad adalah planet-planet yang berputar mengelilingi matahari. Keluarga kami yang lain dan teman-teman kami adalah asteroid dan komet yang melayang-layang di sekitar planet yang mengelilingi matahari. Satu-satunya benda langit yang tidak mengelilingi August sang Matahari adalah Daisy si anjing, dan itu hanya terjadi karena di hadapan mata kecil anjing itu, wajah August tidak kelihatan terlalu berbeda dengan wajah manusia lainnya. Bagi Daisy, wajah kami berempat terlihat mirip, sama pucat dan datarnya seperti bulan.

Aku sudah terbiasa dengan cara kerja alam semesta ini. Aku tidak pernah keberatan karena sejak dulu aku hanya mengenal kehidupan seperti ini. Sejak dulu aku mengerti bahwa August istimewa dan memiliki kebutuhan khusus. Kalau aku bermain terlalu berisik dan August sedang berusaha tidur siang, aku tahu aku harus memainkan permainan yang lain karena August harus beristirahat setelah melakukan prosedur kesehatan atau ada yang membuatnya lemah dan kesakitan. Kalau aku ingin Mom dan Dad menontonku bermain sepak bola, aku tahu sembilan dari sepuluh kesempatan mereka akan melewatkannya karena terlalu sibuk mengantarkan August ke terapi bicara, terapi fisik, spesialis baru, dan operasi.

Penggambaran Via mengenai August sebagai pusat semesta keluarga kecil mereka begitu menyentuh. Ada kejujuran dalam deskripsinya: bahwa Via tahu dan sadar perhatian Dad dan Mom akan terfokus pada August. Manisnya, dari penggambaran polosnya itu, tidak terasa ada nada keberatan dari Via untuk merelakan perhatian orangtua terfokus pada August.

Suatu pilihan cerdas R.J Palacio untuk membawa sudut pandang Via sebagai kakak August. Kompleksitas kehidupan keluarga yang memiliki anggota keluarga istimewa dapat diselesaikan dengan pemahaman dan ketulusan antaranggota keluarga. Sambil terisak saya baca pandangan Via mengenai adiknya dan kehidupannya, dan berhasil menyimpulkan: adik istimewa tentu untuk kakak yang istimewa! 🙂

~~~

Untuk tanggal 30 ini, scene inilah yang melekat di pikiran dan berhasil menyentuh hati saya. Buat yang ingin ikut bagi-bagi scene favorit dari buku yang kamu baca dapat mengikuti meme yang diselenggarakan olek kak Bzee dengan aturan berikut ini.

sceneonthree1. Tuliskan satu adegan atau deskripsi manusia/pemandangan/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.

2. Jelaskan kenapa adegan itu menarik menurut versi masing-masing.

3. Jangan lupa cantumkan button Scene of Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan Bzee.

4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan Bzee. Mari saling berkunjung! 🙂

5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (3, 13, 23, 30, dan 31).

Advertisements

3 thoughts on “Scene on Three (1)

  1. bzee

    Aku juga kagum banget sama Via, suka dgn kata2 “adik istimewa tentu untuk kakak yang istimewa”.
    Terima kasih ya sudah ikutan 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s