Scene on Three (2)

Image

Saya mungkin sedang melow, entah kenapa tadi malam ingin baca ulang buku Rectoverso ini. Tadi malam tiba-tiba meriang sekali, badan demam tapi merasa dingin. Sendirian di kosan-di kota besar bernama Jakarta, jadi kangen Bandung-. Setelah menelepon mamah di Bandung sedikit terobati. Tapi, tetap saja terasa sepi. Kalau sedang demam sendirian di kosan pasti deh suasana hati suka melow :D. Ya…tiba-tiba keingetan lagu dan cerpen “Curhat Buat Sahabat”nya Dee. Sebelum saya jadi curhat berkepanjangan, kita lihat bagian deskripsi yang paling saya suka dari cerita “Curhat Buat Sahabat”.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aki mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayangnya adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Ia lalu minta dibawakan segelas air yang hangat. Aku menunggu sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku dapripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi, Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi. 

Scene of Three tanggal 31 ini saya pilih pendeskripsian Dee dalam cerita “Curhat Buat Sahabat”. Deskripsi seorang sahabat laki-laki pada sahabat perempuannya yang sedang membutuhkannya. Saya bisa merasakan bagaimana paniknya si sahabat sampai tidak peduli basah atau pun hujan yang terus mengguyur. Tidak peduli juga baju yang basah. Karena yang ada dalam pikirannya saat itu hanya satu: seseorang membutuhkannya. Dari deskripsi itu juga, terasa sekali betapa uluran tangan seseorang untuk air putih hangat saat kita sakit sangat menghangatkan hati.

Apalagi, Dee dengan manisnya menutup deskripsi tersebut dengan satu untaian kata yang begitu khas dee ‘romantis dan manis’: dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi. Bahkan, untuk sebuah mimpi pun begitu khawatirnya untuk mengganggu kualitas istirahat sang sahabat tersayangnya. Ya, hal kecil dan sederhana terkadang sering mencuri hati kita, bukan? 😀

Buat yang ingin ikut bagi-bagi scene favorit dari buku yang kamu baca dapat mengikuti meme yang diselenggarakan olek kak Bzee dengan aturan berikut ini.

sceneonthree1. Tuliskan satu adegan atau deskripsi manusia/pemandangan/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.

2. Jelaskan kenapa adegan itu menarik menurut versi masing-masing.

3. Jangan lupa cantumkan button Scene of Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan Bzee.

4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan Bzee. Mari saling berkunjung! :)

5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (3, 13, 23, 30, dan 31).

Advertisements

2 thoughts on “Scene on Three (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s