[Book Review] Pesan Kedamaian pada “99 Cahaya di Langit Eropa”

Image

Agen muslim yang baik.

Saya rasa kalimat itu sekarang akan menjadi cukup populer. Kalimat hasil pemikiran dan pengalaman yang matang tentunya. Saat mendapati kalimat tersebut kali pertama di buku ini, ‘agen muslim yang baik’ adalah hal yang terus terngiang di telinga. Terima kasih untuk Hanum Rais dan Rangga Almahendra atas kalimat yang hadir dari pengalaman mereka menjadi agen muslim saat di Eropa. Awalnya, saya takut buku ini hanya akan mewartakan romansa masa lalu kejayaan Islam. Tapi ternyata saya tak jadi kecewa, karena lebih dari itu, buku ini memang menginformasikan peradaban Islam masa lalu, tapi juga berusaha membuka cakrawala berpikir kita bahwa kejayaan masa lalu bukan hanya untuk dikenang dan digembor-gemborkan semata, tapi dijadikan bekal dan kompas untuk berjalan maju ke depan.

Buku ini diterima bukan saja karena menyajikan nuansa Eropa (Austria, Prancis, Spanyol, dan Turki). Buku ini diterima dengan baik karena seperti menghadirkan segelas air putih saat kita panas dalam. Air putih yang memberikan kesegaran pada tenggorokan yang panas. Air putih saja, sederhana, namun tubuh segar kembali karenanya. Ya, pengalaman Hanum bersama para perempuan muslim yang ditemuinya di Eropa menampilkan sebuah lukisan kedamaian Islam. Islam yang damai, menenangkan, dan menyegarkan.

“…. Hanya satu yang harus kita ingat. Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim…” (hal. 47)

Itulah kalimat yang dilontarkan Fatma, teman bertualang Hanum di Wina. Seorang ibu muda beranak satu dari Turki. Saat membaca buku ini dan mengenal tokoh Fatma, langsung tergambar wanita Turki cantik dan semampai yang pernah mengobrol dengan saya di Jerusalem. Matanya coklat, bibirnya merah tipis, dan kulitnya putih (walau saat dialih wahanakan ke bentuk film, tokoh Fatma jauh dari bayangan saya. Tapi Raline cukup baik kok memerankannya). Kalimat ini pun terlontar dari fragmen paling tak terlupakan dari buku ini. Saat Fatma mentraktir tiga bule yang mengolok-olok agama dan bangsanya. Ketika membaca fragmen ini, mata tak kuasa menahan lompatan air di dalamnya, ini indah sekali. Teringat Rasululllah yang selalu sabar ketika orang-orang menghinanya, sebaliknya malah memperlakukan orang yang menghinanya dengan baik.

Sejak itulah, Hanum semakin tertarik pada sosok Fatma Pasha. Bersama Fatma dia berencana untuk menggali peninggalan dan pengaruh Islam pada Eropa. Keliling Eropa seperti Prancis dan Spanyol. Namun, pada kenyataannya Hanum harus pergi ke Prancis dan Spanyol hanya berdua dengan Rangga, suaminya. Di Prancis Hanum bertemu Marion, perempuan Prancis yang mualaf. Selain itu, Marion juga seorang peneliti. Oleh karena itu, perjalanan Hanum ditemani Marion adalah hal yang sangat menguntungkan. Di Prancis, Hanum mendapat sebuah pengetahuan yang baru dan tak terduga. Betapa pengaruh Islam di Eropa sangat kuat. Ketika membaca ini, saya tercengang, terkejut, berpikir, dan berusaha untuk cek ricek namun tetap bersyukur atas kenyataan yang dipaparkan Hanum. Sebuah kenyataan yang berasal dari keterangan Marion.

Setelah dari Prancis Hanum mendapatkan sebuah informasi yang luar biasa mengenai pengaruh Islam pada Eropa, Hanum pun sepakat dengan suaminya untuk ke Spanyol, yaitu ke Granada dan Cordoba. Kota yang kata Marion adalah city of light yang sebenarnya. Kota tempat asal Averroez dan Avicenna. Di Spanyol, Hanum pun mendapati kenyataan yang membuatnya semakin bersyukur dilahirkan sebagai Islam. Tanpa Islam, Eropa hanya akan terus tersembunyi dalam kegelapan. Islam memberikan sinarnya saat itu melalui seni, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Setelah selesai membaca buku ini, saya terdiam. Benar apa yang dikatakan Hanum melalui buku ini. Dulu, para filosof, ilmuwan, seniman, budayawan Islam mengabarkan Islam yang damai dan kreatif pada Eropa. Bukan dengan pedang, teriakan, dan peperangan. Islam muncul mengabarkan kabar gembira dengan memerlihatkan satu tatanan tertib dan beradab. Islam datang dengan damai, menawarkan kasih dan cinta. Islam mengulurkan ilmu pengetahuan dengan menampakkan bahwa agama dan sains dapat berdampingan dan seiring.

Mungkin kita belum bisa seperti Averroez (Ibnu Rusyd) yang menjadi ilmuwan Islam panutan para ilmuwan di Eropa. Tapi, kita bisa memulai menjadi agen muslim di lingkungan terdekat kita. Seperti yang dijadikan patokan Fatma untuk menjadi agen muslim di Eropa (tebarkan senyum, kuasai bahasa Jerman dan Inggris, dan jujur dalam berdagang), kita pun memulai dengan hal terkecil dan terdekat. Tebarkan kebaikan selalu agar Islam yang damai menjadi berkah untuk setiap makhluk di muka bumi ini.

Terakhir, saya ingin mengutip kalimat yang terdapat pada film “99 Cahaya di Langit Eropa”: Islam tidak hanya tentang jalan yang aku pilih, lebih dari itu, Islam adalah tentang jejak yang aku tinggalkan kelak.

Semoga di mana pun kita berada, kita menjadi berkat untuk semesta 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s