Kembalinya ‘Surat Semangat’

20131231-094142.jpg

dua pucuk surat dari yang jauh di sana 🙂

Pernahkah merasakan saat merasa ‘diingat’ dan kita merasa menjadi orang yang ‘berarti’? Itulah yang aku rasakan saat membaca aksara sederhana yang menuliskan kata tempat “Halmahera Selatan-Maluku Utara” di belakang amplop. Hati langsung terpekik “Oh Tuhan, bahkan aku tak ingat pernah menulis surat untuk mereka dan aku sudah tak ingat harus menantikan balasan, tapi ini??”. Sebelum membuka amplop, aku terdiam dulu, rutinitas telah membawaku berjalan terus.

20131231-094204.jpg

Cita-cita kakak apa?

Cita-cita kakak apa?

Adik sayang, tahukah kau dik, kemarin waktu membaca dan bahkan sekarang saat menuliskan ini di blog, aku tergelitik oleh pertanyaanmu. Kata “cita-cita” yang polos kau tanyakan padaku hanya sekadar untuk mengenalku bagiku sangat berarti. Pertanyaanmu dik membuatku kembali berpikir pada sebuah mimpi yang aku lupa karena rutinitas. Lagi-lagi rutinitas yang kujadikan kambing hitam, padahal mungkin kesalahan utamaku adalah malas. Ya, sebuah mimpi terbesarku yang terus menantikan momentumnya untuk kueksekusi menjadi kenyataan. Cita-cita yang kurangkai sejak ku mampu mengeja setiap huruf dalam buku. Cita-cita yang kudapatkan dari kenikmatanku bergaul dengan buku.

20131231-094220.jpg

doa yang dilangitkan tanpa diminta :”)

Dan, saat aku tertegun dan merenungkan cita yang masih tertahan membuka gerbangnya, kubaca serangkai kalimat menyejukkan yang tak hanya dilayangkan untukku dalam bentuk sepucuk surat, mungkin diterbangkan juga ke langit-langit doa

“aku janji akan berdoa untuk kak Andalusia yaaa”

Tahukah kau dik, doa yang tulus adalah doa yang diucapkan tanpa diminta. Kau langitkan seribu pengharapanmu untukku dengan tulus. Aku yakin Tuhan mendengar doa-doa yang kau langitkan.

20131231-094241.jpg

dekorasi yang polos dan tulus 🙂

Terima kasih untuk balasan suratnya. Terima kasih mengingatkan untuk sejenak menghela nafas dari rutinitas kesibukan sehari-hari. Terima kasih menawarkan waktu rehat dengan kepolosan dan keunikan dekorasi suratmu yang dibalut dengan kesederhanaan. Terima kasih untuk pertanyaan yang kembali membuatku berpikir (selalu). Terima kasih untuk doa dan pasti doaku pun untukmu.

Tanpa pernah bertemu. Tak tahu kamu yang mana, aku yang mana. Namun, jika hati sama-sama berkata tentang “kasih” bukankah jarak dan beda pun tak lagi masalah?

Teruslah belajar. Teruslah bermimpi. Teruslah membaca (buku ataupun dunia tempatmu menanyakan dan memaknai banyak hal). Teruslah berpikir. Teruslah bertanya. Teruslah tersenyum. Teruslah bersemangat, karena dunia hanya untuk orang yang bersemangat!

*surat balasan dari adik-adik Halmahera Selatan atas surat semangatku di Festival Gerakan Indonesia Mengajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s