Apa Itu Intelektual?

Foto: Tristia Riskawati

Foto: Tristia Riskawati

Apakah perbedaan pakar dan intelek? Lalu, seperti apa sebenarnya intelektual?

Sepanjang Ramadhan, saya mengikuti kegiatan CIWS (Course on Intellectual Writing Skills). Sabtu, tanggal 27 Juni 2015, materi pertama disampaikan oleh Prof. Yasraf Amir Piliang. Materi yang disampaikan mengenai intelektual publik.

Pada jam-jam awal materi saja, saya merasa langsung diajak berpikir untuk membedakan antara orang cerdas, pakar, dan intelektual. Apakah orang yang cerdas dapat dikatakan seorang intelektual? Apakah seorang pakar langsung mendapat gelar intelektual?

Materi disampaikan kurang lebih 60 menit. Saya setuju dengan definisi dari Michel Foucault, bahwa seorang intelektual memiliki tugas to disturb people’s mental habits. Prof. Yasraf Amir Piliang pun mengafirmasi pernyataan Foucault tersebut, bahwa tugas intelektual adalah menyadarkan. Karena masyarakat harus disadarkan, harus ada intelektual yang berbicara tentang hal yang luas.

Tugas intelektual bukan untuk menyuapi masyarakat, tetapi menyadarkan masyarakat.

Salah satu cara intelektual menggelitik masyarakat untuk berpikir adalah dengan menulis. Seorang intelektual pasti memiliki kepakaran yang spesifik (sesuai dengan ilmunya). Nah, dengan kepakarannya tersebut, seorang intelektual dapat menanggapi atau mengajukan gagasan untuk hal yang lebih luas. Bidangnya menjadi sudut pandang untuk menyoroti suatu hal.

Mendengar pemaparan Prof. Yasraf Amir Piliang tersebut membuat saya menyimpulkan bahwa intelektual adalah sebuah proses. Seorang pakar memang tidak dapat langsung menjadi seorang intelektual. Namun, seorang intelektual berawal dari seseorang yang menguasai bidang tertentu. Kita mampu berbicara tentang hal yang general dengan sudut pandang keilmuan kita, apabila kita telah mumpuni dengan bidang kita sendiri.

Satu hal lagi yang menjadi fokus utama seorang intelektual: Gagasan.  Saya setuju, seorang intelektual harus memiliki gagasan. Seorang intelektual tidak akan puas hanya menjadi seorang -meminjam istilah Rhenald Kasali- passanger. Gagasan yang dicetuskan pun harus bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan.

Sungguh, memang tidak mudah menjadi seorang intelektual. Oleh karena itu, saya suka sekali dengan ucapan terakhir dari Prof. Yasraf Amir Piliang ketika menutup materi, “jangan diniatkan menjadi intelektual, ketika ingin menulis atau melakukan sesuatu, tulislah/lakukanlah sesuatu karena ingin bermanfaat untuk yang lain.”

🙂

Advertisements

6 thoughts on “Apa Itu Intelektual?

  1. uniench

    Reblogged this on Gloucewriter's Weblog and commented:
    “ketika ingin menulis atau melakukan sesuatu, tulislah/lakukanlah sesuatu karena ingin bermanfaat untuk yang lain” – Yasrag Amir Piliang

    super sekali!! mulai nulis lagi ahhh. Terima Kasih Neng Andalusia. Aku ga ikut sisi tentang ini.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s