Tag Archives: aktivitas

Apa Itu Intelektual?

Foto: Tristia Riskawati

Foto: Tristia Riskawati

Apakah perbedaan pakar dan intelek? Lalu, seperti apa sebenarnya intelektual?

Sepanjang Ramadhan, saya mengikuti kegiatan CIWS (Course on Intellectual Writing Skills). Sabtu, tanggal 27 Juni 2015, materi pertama disampaikan oleh Prof. Yasraf Amir Piliang. Materi yang disampaikan mengenai intelektual publik.

Pada jam-jam awal materi saja, saya merasa langsung diajak berpikir untuk membedakan antara orang cerdas, pakar, dan intelektual. Apakah orang yang cerdas dapat dikatakan seorang intelektual? Apakah seorang pakar langsung mendapat gelar intelektual?

Materi disampaikan kurang lebih 60 menit. Saya setuju dengan definisi dari Michel Foucault, bahwa seorang intelektual memiliki tugas¬†to disturb people’s mental habits. Prof. Yasraf Amir Piliang pun mengafirmasi pernyataan Foucault tersebut, bahwa tugas intelektual adalah menyadarkan. Karena masyarakat harus disadarkan, harus ada intelektual yang berbicara tentang hal yang luas.

Tugas intelektual bukan untuk menyuapi masyarakat, tetapi menyadarkan masyarakat.

Continue reading

Kenalan Baru, Teman Baru, Senyuman Baru

Erlin, Nisa, dan Agis

Erlin, Sona, dan Agis

Take pictures in your mind on your childhood room

memorize what it sounded like when your dad gets home

remember the footsteps, remember the words said

and all your little brother’s favourite songs

I just realized everything I have someday gonna be gone

(Never Grow Up-Taylor Swift)

Perkenalkan tiga teman baruku. 3 teman cilik yang akan aku temui rutin seperti menemui pacar di hari Minggu (pacar? padahal ga punya sama sekali :p). 3 teman cilik yang belum ku temukan julukannya agar lebih akrab lagi. Tenang saja, beberapa kali lagi bertemu, julukan imut untuk mereka pasti tercipta.

Minggu, 5 Mei 2013

Halaman rumah sederhana sudah ramai oleh tawa riang anak-anak. Makhluk-makhluk polos yang kita semua pernah melewati masanya. Saat dunia kita begitu penuh maaf dan tawa. Kakiku belum sampai melewati pagar biru rumah sederhana milik seorang ibu tua yang dermawan, rasanya jiwaku sudah berkelana bermain dengan  mereka.

“Assalammualaikum…halloooo…” sapaku pada mereka yang cukup terkejut juga dengan kedatanganku. Kuulurkan tangan yang membuat mereka semakin terkejut. Mereka mengulurkan tangan untuk mencium tanganku, kuulurkan tangan untuk ber-high-five dengan mereka. Tapi, akhirnya mereka balas juga dengan cengiran polos yang buat hati langsung luber.

“Buat yang kelas 4 sekarang sama kakak yang baru ini, ya. Namanya kak…” temanku memperkenalkanku yang bahagianya disambut sorak sorai makhluk-makhluk imut itu.

Ini bukan pengalaman baru bagiku. Biasanya setiap Sabtu pun aku bertemu dengan anak-anak manis lain di Depok. Namun, ketika ada permintaan kawanku untuk mengisi juga di Bogor, tanpa pikir panjang aku sanggupi. Ada perasaan ‘puas’ dan ‘bahagia’ tiap kali berbagi dengan tawa ceria dari anak-anak yang jika dilihat dengan mata telanjang tampak tak beruntung secara harta, padahal betapa kaya hati dan pengalaman mereka. Continue reading